Loading

Fenomena Perilaku BABS dan Rasa Malu

25 April 2017



Fenomena Perilaku BABS dan Rasa Malu
Oleh Andhika Mappasomba
 
Buang Air Besar Sembarangan (BABS) bukanlah wacana baru di dalam mendorong perilaku hidup sehat di masyarakat Indonesia. Bahkan, untung hal yang satu ini, pemerintah dengan berbagai program terus melakukan penyadaran melalui penyuluhan yang dikemas sedemikian rupa namun, hasilnya dapat dikatakan belum maksimal apalagi, setelah sebuah UNICEF (www.pkpu.tv) melansir data (2013) bahwa masih ada sekitar 26 % populasi Indonesia yang melakukan BABS. 
.
Jika menilik sejarah pemukiman di Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan, di awal-awal kemerdekaan, pola bermukim masyarakat Sulawesi selatan adalah pola yang perkampungan yang tidak padat dalam artian, jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya cukup berjauhan yang memungkinkan mereka untuk berperilaku BABS dengan bebas. Beberapa tahun setelah kemerdekaan, seperti dituturkan oleh banyak tetua di Sulawesi Selatan bahwa pemerintah mengeluarkan himbauan agar penduduk berpindah ke ruas-ruas jalan.  Sejak saat itulah, jalan-jalan utama mulai dipadati oleh rumah penduduk.
.
Semakin padatnya rumah penduduk di poros jalan utama tentunya melahirkan persoalan-persoalan social yang baru, diantaranya BABS. BABS dan efek negatif yang ditimbulkannya bagi kesehatan masyarakat semisal diare yang muncul dari bakteri ekoli yang dikandung oleh (air besar)AB. Diare menjadi persoalan serius karena dapat mengakibatkan kematian, dan dapat menjadi wabah yang meluas karena penularannya yang dapat terjadi cukup massif.
.
Gerakan hidup bersih dan bebas perilaku BABS khususnya di kota-kota di Indonesia memang dapat dikatakan cukup berhasil namun, untuk masyarakat yang di tepi kota, sebutlah wilayah pesisir pantai dan pegunungan, sepertinya masih membutuhkan semangat dan strategi yang jitu untuk menyadarkan masyarakatnya.
.
Perilaku BABS sebagai sebuah perilaku primitif tidak dapat dikatakan sebagai kesalahan masyarakat semata. Umumnya, sebuah komunitas masyarakat yang berperilaku buruk soal BABS ini memiliki alas an-alasan yang cukup rasional untuk membenarkan perilaku mereka. Diantaranya; mereka akan mengatakan bahwa dengan melakukan BAB di tepi sungai dan pantai akan lebih praktis sebab, air dapat diperoleh dengan mudah dan tidak repot lagi. Walaupun, mereka menyadari bahwa perilaku tersebut dapat memunculkan malapetaka, penyakit menular. 
.
Dari data yang ada, beberapa wilayah di Indonesia yang dapat dijadikan sample tentang perilaku masyarakat yang masih melakukan BABS adalah Daerah suku Mandar (Pambusuang dan Tinambung) Sulawesi barat, di Sulawesi Selatan semisal wilayah Tampinna Luwu Timur, beberapa wilayah pesisir di wilayah Kabupaten Kepulaun Selayar, Pantai Lapakaka Mallusetasi di kisaran perbatasan Barru dan Pare-Pare,  Pantai Merpati Bulukumba, Pantai Tanah Beru (wilayah pembuatan perahu tradisional Pinisi Bulukumba),  beberapa wilayah di Kalimantan memang juga memfokuskan aktifitas Mandi, Cuci dan Kakus (MCK)nya di sungai semisal Kampung Bugis Kelurahan Teluk Bayur Kabupaten Berau Kalimantan Timur, dan sebagainya.
 .
Tingkat pendidikan sebuah komunitas masyarakat, menjadi hal terpenting dalam menanamkan kesadaran tentang perilaku buruk BABS. Buktinya, setiap wilayah perkotaan tampaknya, perilaku BABS masyarakatnya juga, tampaknya cukup menurun. Sementara, masyarakat pesisir dan pedalaman memang umumnya, cukup rendah dalam mengenyam pendidikan.
.
Jika melihat fenomena tersebut di atas, ke depan, jika tingkat pendidikan mulai merata dan ajakan hidup sehat tetap dilakukan, tentunya, akan sangat mudah untuk menanamkan kesadaran tersebut. Terlebih, jika pemerintah telah berhasil mekakukan pemerataan dalam memberikan ketersediaan air bersih yang mudah dan murah bagi masyarakat di segala lapisan dan tingkatan wilayah. 
.
Selain menunggu, ada baiknya, jika pemerintah secara massif pula memperkenalkan metode-metode yang berhasil diterapkan  di beberapa wilayah di Indonesia dalam melakukan rekayasa perilaku secara revolusioner dalam menghentikan perilaku BABS.
.
Nusatenggara Barat yang beribukotakan Mataram adalah salah satu wilayah di Indonesia yang patut dijadikan sample dalam memerangi perilaku BABS. Dari sebuah situs berita di internet di sebutkan bahwa beberapa daerah di wilayah tersebut menerapkan Awiq-Awiq (aturan adat) yang tegas soal BABS dimana, awalnya ada beberapa desa atau kelurahan yang membuat semacam Awiq-Awiq yang mengatur bahwa jika ada masyarakat/warga yang kedapatan melakukan BABS maka namanya akan diumumkan di masjid setempat. Bukan hanya itu, selain diumumkan namanya, warga tersebut akan dikenakan denda sebanyak Rp. 5000 yang akan dibayarkan ke kantor desa/kelurahan dan uang tersebut akan dimasukkan ke dalam kas desa/kelurahan.
.
Di sisi lain, untuk mendukung program tersebut pemerintah setempat juga mendorong ketersediaan sanitasi dan air bersih bagi masyarakatnya.
Model pendekatan di Mataram tersebut, kini sudah hampir merata di wilayah tersebut sehingga menempatkan wilayah tersebut sebagai wilayah percontohan dan di awal tahun 2013, wilayah tersebut mendapatkan penghargaan dari kementerian kesehatan Republik Indonesia.
.
Untuk Sulawesi Selatan, prinsip hidup Siri’ na Pacce sebenarnya sangat memungkinkan untuk dijadikan sebagai modal dalam menanamkan kesadaran. Siri’ atau rasa malu tentunya akan lebih mudah diterima masyarakat, hanya saja, formulasi gerakannya tentu akan disesuaikan dengan kecenderungan budaya masyarakat, misalnya; mendorong jargon-jargon BABS adalah perilaku kurang Siri’. Bagaimana tidak, melakukan BABS di sungai atau tepi pantai menempatkan seorang (pelaku) untuk berada dalam situasi yang memungkinkan untuk mempertontonkan dirinya dalam keadaan “telanjang” dimana telanjang adalah sebuah tindakan yang memalukan atau “kurang siri’.
.
Sungguh tak apik menyaksikan seorang lelaki gagah atau gadis cantik sedang buang air besar di tepi pantai, sementara kita sedang duduk tak jauh darinya, menyaksikan matahari terbit atau matahri terbenam.  Sebuah fenomena  yang menggelikan. Bayangkan jika dia adalah kekasih anda.

Andhika Daeng Mammangka. Pegiat Seni dan Budaya, Jurnalis. Menulis buku sastra dan gemar melakukan riset di bidang social dan budaya.   

Tulisan lama- 2013-, dibuang sayang dipelototi saja.





Tidak ada komentar:

 
Copyright © 2007 Andhika Mappasomba, Design by: Pannasmontata, Modified By: Syarief ToKonjo, Powered By: Blogger