Loading

Catatan Fenomena Bayi Dibuang dalam Kardus

25 April 2017

Catatan Fenomena Bayi Dibuang dalam Kardus
(Negara Harus Bertanggungjawab)

Oleh: Andhika Mappasomba Daeng Mammangka
 
(Bayi laki laki yang baru berumur tiga jam ditemukan warga di kampung Pangngia Dusun Pattunuang, Desa Samangki Kecamatan Simbang, Jl Poros Maros-Bone Km 53, Kabupaten Maros, Sulsel, Jumat (1/3/2013). Bayi tersebut ditemukan warga di sebuah rumah kosong yang di tinggal pemiliknya. Bimo "nama bayi itu"  pun disimpan dalam kardus air mineral kemudian di letakkan di dalam rumah kosong. Kondisinya lemah karena sekujur tubuhnya dikerumuni semut merah. Bahkan pada bagian mulutnya dipasangi lakban. Mungkin , supaya tidak ada yang dengar bayi itu menangis)
Kutipan berita yang saya kutip dari sebuah media cetak ini bukan bermaksud merepetisi situasi dan mengajak pembaca untuk ikut kerasa bersalah atas kejadiannya namun setidaknya,  kutipan berita tersebut akan menghadirkan tiga kemungkinan atas pembaca. Pertama, pembaca akan membayangkan kebiadaban orang tua si bayi tersebut dan akan mengeluarkan kalimat makian bahkan kutukan tanpa solusi. Kedua pembaca yang sudah terbiasa membaca atau menemukan peristiwa yang demikian akan merasa biasa-biasa saja sebab nalar kemanusiaannya terlalu sibuk untuk mengurus permasalahannya sendiri. Ketiga, pembaca akan mencari solusi yang tepat untuk mendorong terhentinya perilaku yang tak humanis ini dengan menawarkan langkah solutif.
Bukan tidak mungkin bahwa perilaku seperti ini akan menjadi fenomena yang tak lagi menggugah empati kemanusiaan. Bahkan menjadi fenomena yang tak berefek lagi sebagai interupsi atas kealfaan manusia terhadap system nilainya sendiri. Jika nyawa bayi (anak) saja telah disepelekan oleh manusia (orang tua) maka, sepertinya membicarakan moralitas dan etika menjadi absurd.
Budayawan sibuk membahas tentang tatakrama dan moralitas dalam berinteraksi sosial. Sementara, budayawan sudah terseret jauh dan mengenyampingkan nyawa sebagi titik inti dari kehidupan. Tampaknya, untuk fenomena bayi dalam kardus ini,  budayawan sebagai corong transformasi nilai pun mengalami kematian atau mabuk di dalam menikmatinya dengan segelas teh hangat pagi hari sambil membaca Koran, tak melakukan apa-apa.
Budayawan dan Agamawan
Membuang bayi dalam kardus, secara umum, desas desus yang selalu muncul adalah bahwa biasanya hal tersebut dilakukan oleh seseorang untuk menutupi rasa malunya yang disebabkan oleh peristiwa dari kehamilan yang tak diinginkan, kehamilan di luar nikah. Rasa malu dalam konteks ini, mengalahkan rasa berdosa. Artinya budayawan yang membentengi budaya dengan rasa malu itu sangat berhasil sementara para (agamawan) da’i telah gagal dalam memberikan pengetahuan dan membangkitkan kesadaran atas dosa membuang bayi. Tuhan pun dilawan, apalah lagi hanya Dinas Kebudayaan atau lembaga budaya lainnya
.
Jika fenomena bayi yang dikeremuni semut ini belum juga bisa menjadi interupsi bagi Agamawan dan Budayawan sebagai peristiwa besar yang menggugah, patut dicurigai bahwa keduanya telah terseret juga dalam arus besar yang terjadi dalam keseharian yakni; politik.
Agamawan dan Budayawan cenderung lebih tertarik menyikapi persoalan politik padahal, kejadian bayi dalam kardus yang dikerumuni semut ini akan terus berulang dan tidak ada langkah untuk menghentikannya. Bahasa budaya dan bahasa agama sepertinya mengalami stagnasi atau kebekuan dalam menghidupkan kembali empati kemanusiaan.
Peristiwa “membuang bayi” bukanlah peristiwa yang baru dan cerita setelahnya selalu beragam. Umumnya anak-anak itu berakhir di panti asuhan atau diambil oleh seseorang sebagai anak angkat. Mungkin juga di usia sekian tahun, kita akan menemukannya di jalanan, menambah cerita panjang tentang duka dan ramainya penjara dengan anak-anak. Atau yang lebih mengerikan adalah, bayi-bayi tersebut akan diperjualbelikan dan identitasnya dikaburkan.
Agamawan dan Budayawan sebagai juru bicara kemanusiaan dan moralitas sudah tak lagi memiliki tuah atau aji yang mumpuni, Negara memang sebaiknya melakukan kontemplasi nasional untuk merenungkan kembali bahwa untuk apa lembaga Negara ini ada jika bukan untuk mengurusi manusia-manusia yang ada di dalamnya dari urusan “A hingga Z” terutama yang berefek secara social?
Masyarakat awam, yang memang tak mau tahu soal Negara dan kewajibannya, di dalam kesehariannya, umumnya hanya mengenal dua golongan. Yang pertama, Agamawan, untuk urusan ibadah, ceramah, dan selebrasi agama lainnya. Umumnya pula, golongan ini yang paling dicari saat hari jumat, acara maulid dan sebagainya.  Yang kedua adalah Budayawan yang dianggap selalu mengurusi selebrasi atau perayaan hari-hari besar Negara semisal perayaan tuhuhbelasan dan lomba-lombanya atau selebrasi Negara lainnya.
Terkait dengan “membuang bayi” Agamawan dan Budayawan adalah benteng Negara dalam menghadapi persoalan ini sebab sangat terkait dengan mentalitas dan rohaniah masyarakat. Tapi, dalam kenyataannya, apakah Negara memberikan perhatian yang baik kepada Agamawan dan Budayawan? Jawaban yang paling pasti adalah “Iya” akan tetapi, itu hanya pada Agamawan dan Budayawan yang dekat dengan penyelenggara Negara atau kekuasaan. Agamawan dan Budayawan, sangat jarang memiliki ruang perhatian bahkan akan dipenjarakan jika menghujat atau mengkritik Negara.
Posisi Perempuan
Tidak dapat dipungkiri bahwa fenomena “membuang bayi”  telah memposisikan perempuan sebagi korban. Terlepas dari sudut pandang hukum, perempuan akan menanggung malu yang lebih besar dan juga tentunya dosa yang lebih berat karena serentetan perilaku yang ikut menyertai sikap membuang tersebut. Boleh jadi, laki-laki/pelaku penghamilan akan berlepas tangan dengan seribu satu alasan dan melanjutkan kehidupannya secara normal dan tanpa rasa bersalah.
Sementara itu, perempuan akan menanggung beban kesalahan secara sosial yang akan ditanggungnya seumur hidup. Belum lagi perubahan-perubahan secara fisik yang akan dialaminya pasca melahirkan, yang akan dibawanya juga seumur hidup. Belum lagi bayangan-bayangan ketidakharmonisan dalam rumah tangga di hari esok, meski ada lelaki lain yang begitu tulus mencintainya dalam bingkai rumah tangga.
Bayangan Masa Depan Sang Bayi
Sebagai anak yang tak memiliki kejelasan orang tua, tentunya, hal tersebut akan menimbulkan persoalan yang dapat dikira-kira. Mulai dari hidup yang prustasi tanpa pegangan hingga hidup yang tak memiliki keyakinan masa depan dan rasa malu. Intrumennya sangat jelas, untuk masa sekarang saja, banyak anak-anak yang tak sempat mengenyam pendidikan secara baik sementara orang tua mereka masih hidup/ada, apalah lagi mereka yang memang tidak memiliki orang tua sejak awal.
Sementara itu, Negara juga tidak pernah berhasil menghentikan fenomena anak jalanan, tunawisma, dan yang lainnya. Sementara, Negara juga terus ikut-ikutan menyalahkan mereka yang berlaku ingkar atas persoalan sosial tersebut.
Rumah Bersalin Untuk Gadis
Sub judul ini mungkin saja terkesan provokatif. Namun, sesungguhnya, sub ini lahir dari sebuah pengamatan panjang dari fenomena tentang perilaku masyarakat Indonesia secara umum dalam kurung waktu yang panjang, demikian pula yang terjadi di dunia luar Indonesia.
Secara sederhana, saya ingin mengajak pembaca menyimak perilaku pergaulan di Indonesia sejak zaman silam. Rasa malu bisa dicermati dari masa ke masa dalam fenomena film. Film-film lama atau klasik di Indonesia, umumnya tidak menjadikan adegan seksusalitas secara bombastis dalam menyajikan cerita. Biasanya hanya sebuah gambar yang naratif dan cenderung semiotik. Namun, mencermati perkembangan film ini dari masa ke masa, adegannya kian liar dan tak bisa terkontrol. Semakin mengundang sahwat.
Ini sama saja dengan fenomena rumah kost dari sebuah kawasan perkotaan. Sederhananya, kota semakin padat dan nyaris tanpa batasan. Dari banyak catatan dan testimony tetua, dulu saat orang berpacaran,  berpegangan tangan saja sudah menjadi hal yang luar biasa karena adanya kontrol moral dari nilai budaya dan agama yang terus direpetisi oleh budayawan dan agamawan, baik kata maupun pola kelakuan/sikap mereka yang mulia.
Sepertinya, gerak perilaku masyarakat Indonesia lambat laun akan mengikuti arus kebudayaan (luar) besar yang massif dengan propagandanya yang mendomplain lewat jejaring kapitalisme yang mekanik dan materialistik, dimana nilai budaya dan agama adalah persoalan nomor terakhir.
Hal yang paling mungkin dilakukan Negara untuk menghentikan tindakan aborsi atau membuang bayi sembarangan adalah Negara harus andil di dalamnya. Peristiwa ini sudah menjadi kenyataan pahit yang harus ditelan bersama oleh bangsa yang katanya  menjunjung tinggi nilai agama dan kebudayaannya ini.
Jika Negara memberi  ruang dengan pintu yang terbuka lebar untuk praktek prostitusi yang legal, kenapa tidak, Negara juga membuka rumah bersalin untuk gadis belum menikah sebagai tindakan atau solusi yang paling rasional menghadapi fenomena bayi yang dibuang sembarangan. Sebab boleh jadi, bayi-bayi yang berserakan tanpa identitas itu adalah buah dari ruang-ruang prostitusi yang dilegalkan oleh Negara.

Dengan demikian, air mata dan jeritan (masyarakat) pembaca berita terkait dengan “pembuangan bayi” ini akan memiliki kepastian dan jaminan bahwa ke depan, tak ada lagi bayi yang dibuang dalam kardus dengan mulut terlakban dan dikeremuni semut yang akan mengusik kita. Bayi-bayi itu akan dirawat oleh Negara. Dengan demikian pula, Agamawan dan Budayawan bisa menjadi medium penyampai yang baik bahwa Negara ini adalah Negara yang bertanggung jawab atas segala hal yang membuka ruang terjadinya kehamilan di luar nikah. Ini juga menjadi kemungkinan lain dari menyelamatkan posisi Agamawan dan Budayawan untuk tidak disebut absurd dengan posisinya yang mulia di mata manusia dan Tuhan, minimal di Sulawesi Selatan.
Bulukumba, 4 Maret 2013
sebuah tulisan lama yang diposting kembali. sekerdar arsip agar tidak hilang.

Tidak ada komentar:

 
Copyright © 2007 Andhika Mappasomba, Design by: Pannasmontata, Modified By: Syarief ToKonjo, Powered By: Blogger