Loading

Di Perjalanan Pulang

15 Maret 2016

Di Perjalanan Pulang
pertemuan dua cinta adalah kepergian
kepergian dan berjalan di atas lengkung pelangi
pelangi adalah setapak kesunyian yang penuh bunga indah di satu tepiannya
tepian lainnya adalah jurang hitam suram menganga ke dalam kesedihan
jika cinta tak sampai pada ujung perjalanannya
lelaki selalu kalah dalam sejarah penantian
lelaki yang kalah dan berjalan pulang dengan tubuh yang lesu
wajah yang suram dan tanpa cahaya, dia sesungguhnya sedang berjalan di atas puisi
berjalan dengan harapan-harapan yang terhempas ke dalam kata-kata
berjalan dengan bayangan-bayangan kekasihnya yang terhenti dimilikinya
yah, hanya pada kenanganlah mereka berangkulan dan mengasihi dalam asmara
dan di dalam ruang kenyataan cahaya pada waktu yang merentang panjang
luka mereka tak pernah sembuh
lelaki berjalan meninggalkan dengan segala beban derita hatinya
wanita duduk meneteskan air mata kesedihan ditinggalkan dalam kesendiriannya
di perjalanan pulang seorang lelaki yang baru saja diremukkan hatinya
semesta seolah senyap mengiringi langkah-langkahnya
gemerisik ilalang adalah nyanyian sunyi yang mengiris hati dan memerihkannya
bintang, bulan dan kelam malam  menjadi saksi betapa duka lara yang meneteskan air matanya sungguhlah telah mengajak bayangannya sendiri tersedu-sedu dalam perjalanan
itu adalah perjalanan terjauh dengan jarak yang singkat dalam hidupnya
tertatih dengan kesedihan yang paling hitam
lelaki itu adalah pernah menjadi kenyataan kita
terluka dan berjalan pulang dengan rasa kalah yang paling menakutkan
kehilangan harapan, rencana dan cita-cita masa depannya
cinta memang adalah kepergian dua hati yang bertemu
masuk ke dalam rimba raya yang lebat
dan tersesat dalam kemungkinan-kemungkinan
kemungkinan membeku, kemungkinan berbahagia
lalu kepastian menderita dalam luka-luka
lelaki selalu punya kesempatan berjalan pulang
dan wanita selalu memilih diam, tersesat dan menghilang dalam kesedihannya
lelaki selalu menemukan arah tanpa peta
lalu wanita selalu saja tersesat dalam sejarahnya
jika cinta sungguhlah kepergian, siapapun yang ada di dalam lingkarannya dia tak akan menemukan matahari, bulan, bintang sebagai penanda arah  perjalanannya
jika cinta adalah kepergian, maka dia akan terus dalam perjalanan. di dalamnya, mereka akan lupa berkaca dan melihat wajahnya sendiri
di dalam kepergian itu, segala yang disentuhnya akan menjadi puisi. puisi dengan sinar putih atau aura kekalahan yang muram
lelaki yang penuh cinta adalah lelaki yang penuh rahasia-rahasia yang diselempangnya dengan kisah-kisah yang bersembunyi di dalam matanya dan terus melangkah pulang
lelaki itu mungkin pernah menjadi wajah kenyataan kita
air mata adalah kesimpulan perjalanan pulang
pulang menuju rumah, sebuah hati, atau dangau cinta milik seorang yang lain
dan kita merampoknya atas nama cinta, membunuh pemiliknya dan mengira bahwa kita telah menyelamatkan peradaban ummat manusia dengan pedang tajam, melengkung berukirkan kata-kata cinta
ketika kita memilih sebuah hati untuk menjadi rumah cinta sebagai tujuan perjalanan pulang, ada hati yang lain yang terusir dan tak memiliki kesempatan merumahkan cintanya di sana.
kita adalah lelaki. lelaki yang menelantarkan sebuah hati lelaki lainnya di dalam sebuah rumah cinta. oh, indahnya kekejaman itu. cinta menjadikan siapa saja menjadi perampok.
di dalam sajak ini kutitipkan kesadaran
cintamu merampok hatiku dengan garang
dan aku sedang dalam perjalanan pulang
selalu dalam perjalanan
Bulukumba, 15. Des. 14

Bunga-Bunga Kematian



Bunga-Bunga Kematian

siapakah yang bisa mengelak dari maut
menghindari malaikat berpedang kematian dan sangkakala
malaikat dengan sayap selebar separuh bumi
dan kegelapan yang pekat membentang dalam waktu yang abadi
dan kita adalah kesementaraan yang selalu mengira keabadian ada pada tubuh
maka, kita adalah denting yang tersesat dalam ruang sunyi
dan perjalanan roh menuju tuhan adalah rahasia yang selalu kita ingin sibak
dan, kita tak bisa membuka rahasia, sebab kehidupan yang mati tak pernah datang lagi

waktu memang adalah garis yang berjalan lurus
perulangan adalah kemiripan saja
tak ada perulangan sempurna
bagai detak jam dan benturan bandul pada jam kayu tua di sudut ruangan sejarah
bunyi detaknya tak pernah sama. detak itu terus berubah seiring ketuaan
detaknya berubah seiring musim hati yang menyimaknya
kadang menjadi nada
kadang menjadi sembilu
kadang hampa tanpa nilai

siapakah yang dapat mengelak dari maut
sedang dia adalah kepastian yang tulus
bagai puisi yang mencintai nama yang tersebut di dalamnya
bagai kesejatian yang bernyali dari sepasang remaja dimabuk asmara merah jambu
bagai kepastian pagi dan ketepatan senja pada waktunya
bagai ketulusan lilin yang lebur membakar diri memberikan cahaya kesementaraan

bukan kematian sungguh yang menggetarkan
tapi kebangkitan setelahnyalah yang menumbuhkan pertanyaan
ke taman bunga surgawi ataukah ke perut gunung yang menyalakan api?
andai bisa memilih dengan semudah membalik telapak tangan atau jemari
aku hanya akan memilih mencintai kekasihku saja
agar hidup dan matiku penuh dengan kemesraan cinta yang hangat
tapi, nabi tak berpesan hanya itu saja sebab hidup tidaklah sederhana
para wali melukiskan empat jalan pada pepohonan sejarah kecintaan
batang syariat
ranting tarikat
daun hakikat
buah manis makrifat

bukan kematian sungguh yang menakutkan
tapi kesirnaan dalam sejarah tanpa nisan kisah penanda
menjadi buih di samudera atau debu-debu musim kemarau
ada tapi tiada dikisahkan lagi
usia dan perjalanan, bagai kilat petir di ujung langit
hadir menyentakkan cahaya lalu sirna tergantikan kilat petir berikutnya

penyair hidup dengan berdarah darah dalam sejarah
menuliskan kata di atas jalan-jalan berkelok
ada kata yang menjadi batu keras dan tertancap bagai tonggak tua
ada kata yang hilang digilas musim hujan dan kemarau
kata yang hidup menjadi jembatan kesurgawian
kata yang mati menjadi interupsi yang tersesat dalam sejarah dan tak pernah kembali

karya manusia dalam peradaban adalah bunga-bunga kematian
ada yang meranggas
ada yang kuncup saja
dan ada yang mekar begitu saja di dalam musim yang menantang
subur di musim kemarau atau mati di dalam hujan

pengenala dan musafir adalah jiwa kita
selalu dalam perjalanan
entah apa yang mereka temukan
keduanya begitu sunyi dan selalu ada di dalam keindahan dunia
mereka adalah kita yang mencatatkan diri di dalam waktu

sebagai mahluk di taman dunia
jiwa kita adalah bunga-bunga kematian
yang akan ditanam dan di beri nisan di tanah pemakaman
diberi gundukan tanah dan bebatuan yang kotor
di beri tanggal, bulan dan tahun kematian
diberi nama dan dibiarkan tergeletak kesepian diselimuti kesunyian abadi

siapapun yang tak memiliki karya
dialah yang akan menjadi kenyataan kesirnaan tanpa cerita setelahnya
dan sebaik-baik karya adalah jariyah yang bermanfaat
jariyalah yang mewujud menjadi bunga-bunga kehidupan
malaikat pun tak sanggup mematikannya dengan pedang atau sangkakala

Bulukumba-Gowa, 9.12.14




Pasang Ri Kajang sebagai Sumber Inspirasi Penulisan Karya Sastra

13 Mei 2014



Pasang Ri Kajang sebagai Sumber Inspirasi
Penulisan Karya Sastra
Oleh, Andhika Daeng Mammangka, S.S


Sekelumit Dunia Sastra
Adalah hal yang menarik mencermati dunia sastra belakangan ini di Indonesia dan dunia. Betapa tidak, sastra di berbagai jenis karya sepertinya telah menjadi jalan lain selain agama untuk menawarkan nilai dan kearifan dalam menjalani kehidupan sebagai ummat manusia. Jika agama masih tampak tercurigai dengan agama lain dalam menyampaikan kebenaran, justru sastra tampaknya dapat dapat menembus batas agama, bangsa ataupun komunitas masyarakat tertentu. Kita bisa menyimak pesan (sastra/teks) kemanusiaan dan perdamaian Mahatma Gandhi atau Bunda Teresa yang keduanya dari India. 

Mahatma Gandhi adalah sosok pria beragama Hindu  yang memimpin rakyat India untuk merdeka dari kekuasaan Inggris pada tahun 1947, “Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.” Sementara itu, Bunda Teresa yang seorang missionaris  katolik , memiliki keluhuran jiwa dengan menjadi pemerhati penderita lepra, HIV, orang miskin, sekarat dan sebagainya. Salah satu pesannya yang menarik adalah “Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang; tapi bagaimanapun, teruslah berbuat baik.”(google.com)

Untuk karya sastra, kita bisa menyimak/memetik nilai dari karya Anton Chekov dan Vadlimir Nabokov  dari Rusia, atau A.A. Navis danPramudya Ananta Toer dari Indonesia. Karya-karya mereka umumnya memotret kehidupan sosialnya dan memberikan inspirasi positif bagi pembacanya.

Di sisi lain, fenomena pasar buku sastra di Indonesia belakangan ini juga tampak mengalami kebangkitan. Ini dapat dilihat dengan munculnya buku-buku sastra yang merajai pasaran buku di toko buku. Walaupun masih beranjak perlahan namun sudah mulai cukup terasa kebangkitannya. Beberapa tahun silam, ada beberapa buku yang penjualannya menunjukkan angka yang luar biasa, seperti pada Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman dan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, konon hasil penjualannya mencapai angka milyaran rupiah. Bahkan, kesuksesannya membuat kisah dalam novel tersebut diangkat ke layar lebar.

Fenomena ini mendorong banyak orang untuk kemudian juga mulai menulis sebab faktanya, menulis bisa menjadi pekerjaan yang menyenangkan dan memberikan keuntungan ekonomi.
Namun, harus disadari bahwa buku yang baik secara sastrawi belum tentu harus menjadi best seller atau laku di pasaran. Buku-buku yang memiliki kandungan nilai sastra yang bagus biasanya malah kurang laku di pasaran. Bukan berarti buku itu buruk akan tetapi, buku yang demikian itu membutuhkan kecerdasan tertentu untuk memahami isinya sementara masyarakat kita di Indonesia bukanlah pembaca yang cermat dan cerdas. Umumnya mereka membaca untuk entertain dan hanya membaca bacaan ringan di masa senggang.

Sastra Sebagai Jendela Budaya
Maman S Mahayana, seorang pemuka sastra di Indonesia di dalam sebuah artikelnya menyebutkan bahwa Sastra sesungguhnya merupakan produk budaya. Ia lahir dari kegelisahan kultural seorang pengarang. Secara sosiologis, pengarang adalah anggota masyarakat, makhluk sosial yang sangat dipengaruhi lingkungan sosial budaya masyarakatnya. Maka, ketika ia memutuskan hendak mengungkapkan kegelisahannya sebagai tanggapan evaluatif atas segala problem yang terjadi dalam komunitas budayanya, representasinya terakumulasi dalam teks sastra. Dengan demikian, teks sastra sebenarnya dapat digunakan menjadi semacam pintu masuk untuk memahami kebudayaan sebuah komunitas.(mahayana-mahadewa.com). Pada konteks ke Bulukumbaan, khususnya Kajang sebagai komunitas budaya  tentunya akan ada pertanyaan, apakah ada karya sastra yang terapresiasi dengan baik oleh masyarakat luar Kajang sebagai jendela untuk mengetahui Kajang? Pertanyaan ini bukan untuk dijawab, faktanya; sangat minim karya “orang” Kajang yang terapreasiasi sebagai karya sastra di Indonesia atau bahkan dunia.

Dunia sastra secara umum dikenal dengan dua jenis yakni Sastra Lisan dan Sastra Tulisan.  Sastra lisan yang umum mencakup dengan kata-kata bijak/pesan filosofis/nyanyian/mantera/dongeng/fabel dan sebagainya, yang umumnya untuk konteks Bulukumba, hal tersebut pernah hidup dengan baik dalam jiwa masyarakat sebelum gempuran media elektronik yang membuat masyarakat kian berjarak dengan kearifan “sastra”nya. Padahal, di balik itu semua, ada banyak nilai kearifan dalam kehidupan yang dapat membuat kita menjadi lebih humanis dan religius dalam mengarungi kehidupan ini. 

Sastra tulisan yang secara umum meliputi puisi, cerpen, novelet, novel, roman, naskah drama/film, essay dan sebagainya adalah alat ekspresi, media penyampaian gagasan/ide, sikap, opini, kisah, argumentasi dan sebagainya, Kesemuanya adalah alat atau media untuk merespons fakta-fakta kehidupan (dari catatan Sutardji Calzoum Bahri, Satu Tulisan Pendek dari Lima Puisi Panjang, google.com).

Kajang dan Sastra Lisan Dulu dan Sekarang
Dalam sebuah kesempatan kunjungan ke Tanah Toa, Ammatoa mengatakan bahwa sebelum semua yang ada di dunia ini dituliskan, semuanya hanya terlisankan atau tersebut dalam “pasang/pesan”. Atau lebih tepatnya disebut Pasang Ri Kajang (berisi pedoman hidup yang diyakini Masyarakat Adat Kajang untuk dunia dan akhirat pra dan pasca Islam masuk), Setelahnyalah baru semua dituliskan. Hal ini menandakan, untuk konteks “Masyarakat Kajang”, sastra lisan hidup dan lestari dalam masyarakat Kajang secara luas. Nanti pada fase moderen atau manusia mengenal tulisan/huruf latin, sastra lisan itu kemudian memudar, tersimpan dalam ingatan tetua masayarakat Kajang. Kecuali dalam Masyarakat Adat Kajang, Sastra Lisan tersebut masih lestari dengan baik dan terwariskan dan tertransformasikan dari generasi ke generasi. Faktanya, masih banyak hal yang belum berubah di dalam kawasan Adat Kajang, terutama tradisi masyarakatnya yang harmonis dengan alam semesta, pola hidup yang sederhana, jujur dan bersahaja.
Pasang Ri Kajang sebagai Sumber Inspirasi Penulisan Karya Sastra
Pasang Ri Kajang (Pesan di Kajang)sebagai sebuah pedoman hidup dunia dan akhirat Masyarakat Adat Kajang tentunya memiliki kedalaman nilai yang luhur sebab hingga kini, pesan tersebut masih tetap diyakini kebenarannya dan dipatuhi ritualitasnya dalam masyarakat adat. Kemampuan mengeliminasi dan bertahan pada modernitas menjadikannya sebagai komunitas yang memiliki identitas dan otentitas yang kontras dengan masyarakat luar Kajang. Bukan hanya karena berpakaiannya yang serba hitam, namun sikap mereka dan menjalani kehidupan yang arif dan bijaksana.
Sebagai pedoman hidup, Pasang Ri Kajang tentunyalah sangat luas dan banyak. Namun, beberapa contoh dapat dikemukakan dalam tulisan ini sebagai bagian dari upaya penggalian nilai Pasang Ri Kajang dalam penulisan karya sastra (hasil penelitian pribadi penulis);

Appa’ Passala Pasang Ri Kajang, Erang Kasalamakang Lino na Ahere
(empat pesan keselamatan dunia dan akhirat)
Buakkang Mata/Menjaga Pandangan Mata
Pansuluq Saqra/Menjaga Tutur Kata
Palampa Lima/Menjaga Gerak Tangan
Angkaq Bangkeng/Menjaga Langkah Kaki

(hasil penelitian pribadi penulis 2006);
Mencermati salah satu Pasang Ri Kajang ini tentunya akan membawa kita pada dialog bathin yang panjang dan mendalam. Dari dialog bathin tersebut, jika kita ingin memberikan apresiasi dan memberikan respons dengan menggunakan media “karya sastra” sebagai penyampai, empat pesan di atas dapat menjadi kekuatan yang sangat dahsyat dan dapat menjadi energi yang akan terus membuat imajinasi kita tumbuh dan merespons fakta-fakta sosial, religi, sikap ataupun fakta-fakta diri pribadi kita.
Jika ditarik ke dalam salah satu fakta “sosial dan politik” maka, ada berapa banyak karya sastra yang bisa lahir dari fenomena sosial politik di Indonesia atas keingkaran-keingkaran (kedustaan) maupun hal yang bersifat positif (bohong/ingkar) atas fakta kekuasaan, birokrasi maupun kemiskinan yang terus tumbuh tak terbendung dan birokrat dan politisi seolah mengeksploitasi/membiarkan dan dalam pidato-pidato mereka menyebutkan bahwa semua baik-baik saja.

Ada banyak ruang kemungkinan yang bisa terjadi dan menarik untuk diolah sebagai sebuah karya sastra dari fenomena “Kajang”, misalnya; realitas cinta pemuda “adat Kajang” yang akan menemukan benturan budaya jika salah satu di antaranya bukan orang Kajang dan memiliki pandangan hidup moderen, Fakta kehidupan Masyarakat Adat Kajang yang menolak Modernitas “listrik dan mesin”, fakta larangan menebang pohon sembarangan, fakta Hukum Adat kajang yang masih eksis, Ritualitas, dan sebagainya, yang tentunya sangat originil dan dapat menjadi hal menarik jika ditransformasikan ke dalam karya sastra.

Hal lain dalam Masyarakat Kajang, luar dan dalam batayya (kawasan adat), sastra lisan masih bisa diperoleh dari penutur yang jumlahnya tak banyak lagi. Umumnya hanya tetua masyarakat kajang, misalnya kisah atau Legenda Tombong Ratu di Laikang Kajang, Legenda Kehidupan Paratiwi atau dunia bawah tanah, Kisah pengislaman Amma Toa pertama di Kajang, Legenda Raksasa, Kisah Pembumihangusan Kajang oleh Belanda tahun 1825, Kisah perseteruan Raja Kajang dengan Raja Bantaeng, dan sebagainya yang kesemuanya memiliki nilai kesastraan yang tinggi dan hingga hari ini, belum pernah tereksplorasi secara massif dan dijadikan sebuah karya satra dalam bentuk puisi, novel, novelet, roman ataupun cerpen.

Hal-hal yang di atas ini adalah sisi lain dari Masyarakat Adat kajang yang dapat menjadi semangat yang luar biasa bagi Masayarakat kajang yang ingin mencoba melakukan “gerakan sastra” dengan menjadikan hal tersebut sebagai titik inti dari pusarannya dalam berkarya.

Peluang dan Tantangan Global
Inggris dan William Shakespeare yang mengarang Romie dan Juliet ratusan tahun silam telah menjadi bacaan yang telah diterjemahkan ke hampir seluruh bahasa di dunia termasuk Indonesia bahkan telah diangkat ke layar lebar dengan berbagai versi. Nizami dengan kisah Laila Majnun yang dikisahkan hampir seribu tahun silam di timur tengah masih tetap bisa diapresiasi hingga hari ini dengan seluruh nilai kehidupan yang ada di dalamnya. Kedua karya sastra yang mendunia di atas adalah fakta bahwa sebuah karya sastra yang baik bias menembus batas geografis, bahasa, budaya bahkan peperangan yang dahsyat sekalipun. Kemampuan sastra tersebut menembus batas membuktikan bahwa ada nilai positif yang dicari pembaca/manusia di balik karya tersebut.
Sangat mungkin bahwa kelak, ada kisah yang berasal dari sebuah kampung kecil yang bernama Kajang dengan segala keunikan, kesahajaan dan kearifannya, yang akan memaksa seluruh bangsa di dunia untuk menerjemahkan karya tentang Kajang tersebut ke dalam bahasa mereka.

Keunikan Kajang dari berbagai sisi adalah peluang untuk menjadi “sesuatu yang mendunia/mengglobal” dan tantangannya adalah apakah lembaga pendidikan di Indonesia secara umum telah menempatkan sastra dan pesastra sebagai bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?
Jawabannya ada di dalam hati dan pikiran kita semua, dengan kembali memberikan pertanyaan sederhana, apakah kita tahu sejarah-sejarah kecil di sekeliling kita dan apakah kita kenal seseorang yang menulis dengan serius tentang “Kajang” atau sejarah-sejarah kecil itu?

Karya Sastra Timur tengah, India, Rusia, Jawa dan sebagainya telah kita nikmati di sini. Pernahkah kita bertanya bahwa apakah “Sastra Kajang” pernah dipreasiasi di negeri mereka? Jika belum, sekaranglah saat yang tepat untuk menggempur negeri dan masyarakat mereka dengan media sosial tanpa batas itu! INTERNET.
Kita memiliki peluang. Tantangannya adalah apakah kita menguasai media internet itu?” kita masih terlalu sibuk dengan urusan perut dan belajar main Facebook, mereka telah sampai di bulan dan planet Jupiter.

Kota Bulukumba, 9 Mey 2014
Makalah untuk kegiatan Bahasa Jerman SMA 5 Kajang Bulukumba 2014

###



 
Copyright © 2007 Andhika Mappasomba, Design by: Pannasmontata, Modified By: Syarief ToKonjo, Powered By: Blogger